RAMAH: Penulis bersama bapak Sukiman di ruang kerjanya.
Menjadi guru bukan cita-cita awal Sukiman. Pria 56 tahun itu ingin jadi tentara. Namun siapa sangka, sekarang dia menjadi sosok yang menginspirasi lewat prestasinya di dunia pendidikan.
Oleh: Khairunnisa
Jarum jam menunjukkan pukul 14.00 Wita. Saat ditemui penulis dia sedang asyik bermain gadget. Di samping ada buku-buku tentang kepemimpinan menghiasi meja kerja. Dengan senyum manis penulis memulai wawancara Sukiman.
Sekarang, Sukiman adalah kepala sekolah SMAN 1 Amuntai Utara. Dia lahir di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, 19 Februari 1967.
Tahun 1991 dia mulai bertugas di Kalimantan Selatan. Menjadi guru Kimia di SMAN 1 Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Tahukah kalian, bahwa ternyata cita-cita awal sang kepala sekolah tersebut, bukan ingin menjadi guru?
Sukiman kecil, dirawat dan dibesarkan oleh neneknya di Desa Belotan, Kecamatan Bendo. Jauh terpisah dari orangtuanya yang berdagang di kabupaten lain, membuatnya tumbuh menjadi sosok yang mandiri.
Tahun 1984, Sukiman beranjak remaja. Melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Magetan dan tinggal ngekos. Semakin jauh dari orangtua, ia hanya dapat bertemu dengan orangtuanya sekali dalam sebulan.
Setelah lulus tahun 1987, Sukiman mendaftarkan diri menjadi tentara, namun gagal. Tidak berhenti untuk bermimpi, Sukiman muda mulai merajut kembali impian untuk masa depannya.
Ia memilih untuk berkuliah di fakultas MIPA, program studi Pendidikan Kimia di Institut Teknologi Surabaya selama 3,5 tahun. Dinyatakan lulus pada Juli 1990.
Biasanya, setelah lulus kuliah seseorang akan merasa kesulitan untuk melamar pekerjaan. Namun hal ini tak berlaku bagi Sukiman. Karena, terhitung sejak 1 Mei 1991, ia secara resmi diangkat langsung menjadi guru PNS di SMAN 1 Amuntai oleh Kemendikbud.
Sejak saat itu dia mulai petualangannya di luar pulau Jawa. Ditanya tentang alasan menjadi guru, Sukiman mengatakan sulit bagi orang seusianya pada saat itu untuk menentukan. Tetapi dalam perjalanannya, Sukiman sadar bahwa ia ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Dalam menjalani tugas sebagai guru, Sukiman mengaku ada banyak tantangan dan rintangan yang harus ia hadapi. Salah satunya karena setiap tahun harus mengajar orang yang berbeda-beda.
Untuk mengatasi tantangan itu, Sukiman membeberkan bahwa seorang guru haruslah menjadi pembelajar sepanjang hayat. “Ijazah itu hanya simbol, tetapi belajarnya sampai sekarang.” ungkapnya.
Dalam karir awal menjadi guru, Sukiman langsung banyak meraih berbagai macam prestasi. Diantaranya pernah menjadi Guru Teladan I Tingkat Kabupaten HSU pada tahun 2001. Menjadi finalis lomba karya tulis ilmiah di bidang Pendidikan Kependudukan Lingkungan Hidup tingkat Nasional.
Di tahun 2002, ia meraih Juara Harapan pada ajang Lomba Kreatifitas Guru tingkat Nasional di Jakarta. Tahun 2004, Sukiman meraih juara III Simposium Inovasi Pembelajaran Tingkat Nasional di Jakarta, serta berhasil ditunjuk menjadi narasumber Simposium Nasional Guru Pembina Olimpiade di Pekanbaru.
Dari berbagai prestasi yang dicapai, Sukiman mendapat sertifikat sebagai calon kepala sekolah di tahun 2009. Tetapi, ia masih harus menunggu untuk dipromosikan lebih dulu sebelum resmi diangkat menjadi kepala sekolah.
Setelah 3 tahun menunggu, Sukiman dipromosikan pada 13 Agustus 2012 dan resmi menjadi kepala sekolah SMAN 1 Paminggir yang berada di Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) Kalimantan Selatan.
SMAN 1 Paminggir berlokasi di antara hamparan rawa yang luas, serta jalan akses menuju sekolah harus menggunakan kelotok (perahu motor). Meski berada di daerah khusus 3T (terdepan, terluar, tertinggal), Sukiman tak berkecil hati.
Ia justru merasa bangga karena diberi kepercayaan untuk mengubah nasib SMAN 1 Paminggir menjadi lebih baik. Terbukti, pada tahun 2017 sekolah ini berhasil mendapatkan penghargaan Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kemendikbud, serta meraih Terbaik II Sekolah Sehat Tahun 2018 yang diberikan oleh dinas kesehatan setempat.
Pria berumur 56 tahun ini, juga berhasil menyukseskan program wajib belajar 12 tahun dengan membuka sekolah kelas jauh. Kelas ini diadakan untuk anak-anak dari Desa Palbatu dan Tampakang yang kesulitan melanjutkan ke jenjang SMA karena terisolasi air, dan ditempatkan menumpang pada bangunan SMP Tampakang sejak 2014.
Dalam karyanya yang bertajuk ”KOMITMEN TAK BERUJUNG”, Sukiman berbagi bagaimana perjuangannya dalam memajukan dunia pendidikan di pedalaman. Ayah tiga anak ini harus tinggal di sekolah (rumah dinas guru) dan merelakan berpisah jauh dari keluarga tercinta demi menjalankan tugasnya.
Fakta menarik lainnya, laki-laki yang memiliki hobi bermain voli ini, sukses mengantarkan 25% dari lulusan SMAN 1 Paminggir ke jenjang Perguruan Tinggi melalui program beasiswa dalam kurun waktu 7 tahun ia bertugas.
Dengan semua dedikasi itu, di tahun 2016, Sukiman berhasil menjadi Kepala Sekolah Terbaik I tingkat kabupaten, kepala sekolah berprestasi tingkat kabupaten, kepala sekolah terbaik III tingkat Provinsi Kalimantan Selatan, terpilih menjadi Duta Kalimantan Selatan untuk pemilihan Kepala Sekolah Berdedikasi, dan Terbaik II tingkat Nasional Kepala Sekolah Berdedikasi di daerah khusus.
Puncaknya pada tahun 2019, Sukiman sukses meraih Anugerah Setyalencana Pendidikan dari Presiden RI yang diserahkan bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional dan HUT ke-74 PGRI, di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Bekasi pada hari Sabtu, 30 November 2019.
Tidak mudah, penghargaan yang diserahkan oleh Mendikbud Nadiem Makarim ini, berhasil ia dapatkan setelah melalui 3 kali uji verifikasi kelayakan.
Komitmen Sukiman yang dipegang teguh mampu mengantarkannya pada berbagai macam penghargaan. Namun, dalam diri lelaki itu menganggap, pencapaian terbesar dalam hidupnya ialah melakukan kebaikan bagi banyak orang.
“Tidak ada yang paling membahagiakan di hati seorang guru kecuali melihat siswanya berhasil meraih masa depannya.”bebernya.
Setahun setelah mendapat penghargaan. Sukiman “hijrah” dari wilayah hamparan rawa yang luas. Menuju utara Kabupaten Hulu Sungai Utara. Ia ditugaskan menjadi Kepala Sekolah SMAN 1 Amuntai Utara.
Sejak pertama kali menatap gerbang SMAN 1 Amuntai Utara, Sukiman bertekad akan membuat sekolah tersebut menjadi tempat yang indah dan nyaman untuk belajar dan bermain. “Kesan pertama dari sekolah ini masih banyak yang perlu dibenahi, terutama lingkungannya.” tutur pria kelahiran 1967 tersebut.
Namun, di tahun itu juga ia dihadapkan pada ujian kebijakan pembelajaran karena kondisi pandemi Covid-19. Kegiatan belajar-mengajar pun dilakukan secara daring. Banyak program dan gagasan yang terhambat.
Setelah badai Covid-19 berlalu. Sukiman langsung tancap gas. Program yang semula terhambat perlahan dijalankan. Hasilnya, beberapa prestasi ditorehkan oleh SMAN 1 Amuntai Utara. Baik untuk siswa atau sekolah.
Misalnya; Terbaik 4 Wawasan Kebangsaan tingkat Provinsi Kalimantan Selatan, Terbaik 6 Olimpiade FLS2N Baca Puisi tingkat Provinsi Kalimantan Selatan, Juara Olimpiade Sains tingkat Kabupaten HSU, Juara lomba egrang, dan finalis lomba video pembelajaran.
Sekarang SMAN 1 Amuntai Utara sedang mengikuti lomba sekolah sehat. Keikutsertaan ini adalah salah satu bagian dari visi dan misi Sukiman untuk menjadikan SMAN 1 Amuntai Utara sebagai sekolah yang Berprestasi, Agamis, dan Bersinergi dengan Lingkungan.
“Tujuan utama saya adalah ingin membangun kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat pada warga sekolah. Tujuan yang kedua, yaitu untuk memenuhi ambisi tersembunyi saya sebagai kepala sekolah yang ingin SMAN 1 Amuntai Utara meraih prestasi.” jelasnya.
Sosok Sukiman mengingatkan penulis pada seseorang dalam lagu Iwan Fals yang berjudul Oemar Bakri. Lagu ini menceritakan seorang guru bernama Oemar Bakri yang begitu loyal terhadap profesinya.
Begitu juga dengan Sukiman, yang begitu kuat memegang komitmennya sebagai guru yang ingin memajukan dunia pendidikan.












